Archive for September, 2010

Saat Kematian Memberi Salam Padaku

Posted in TAZKIRAH on September 30, 2010 by jabatan amal titiwangsa

Aku tertegun ketika melihat sosok dengan wajah pucat dan disumpal dengan kapas pada mulut, hidung, dan telinganya. Yang terbujur kaku dihadapanku. Diselimuti dengan kain berlapis. Dia begitu mirip denganku. Di sekelilingnya orang-orang terisak sambil membacakan surat Yaasin untuknya. Seorang perempuan yang mirip ibuku menangis tersedu-sedu ketika membuka kain penutup mukanya. Lalu dua perempuan lain yang sebaya dengannya menenangkan dia. Dan di sekitar rumahnya ada orang-orang yang menyesali kematiannya yang dianggap begitu cepat. Ada orang yang tidak percaya kalau dia telah wafat. Ada orang yang merasa kasihan pada dia dan keluarga yang ditinggalkannya. Suasana disitu begitu riuh oleh isak para pelayat. Di teras rumahnya seorang bapak menahan tangis lirih airmatanya. Dia mencoba terlihat tegar meski sebenarnya hatinya begitu lemah untuk menerima kenyataan yang ada. Disampingnya seorang temannya mencoba menemaninya, dan hal itu agak meringankan kesedihannya. Dia masih ingat, ketika dulu anaknya yang masih TK memenangkan lomba menggambar tingkat provinsi dan tentang cita-cita anaknya yang ingin menjadi presiden, dia begitu bangga. Betapa anaknya itu akan tumbuh menjadi sosok yang sangat luar biasa. Tak pernah dia berpikir kalau semua itu akan pupus pada usia anaknya yang masih 18 tahun. Sungguh tragis.

Tiba-tiba, sesuatu yang aneh bergerak dalam kepalaku. Ada sesuatu. Ini seperti rumahku. Hey !! Aku ingat, Aku kenal orang-orang ini. Perempuan yang menangis ketika membuka kain penutup muka itu adalah ibuku, dan bapak itu, itu adalah bapakku. Dan jasad yang terbaring itu, itu jasadku. Aku bingung. Benar-benar bingung. Aku sudah mati? Tidak! Ini pasti mimpi. Yah, ini pasti mimpi.

Lalu tiba-tiba aku merasa panas pada tubuhku. Sangat panas, lalu kemudian perlahan-lahan mulai sejuk. Seketika itu muncul sesosok laki-laki bercahaya dan berwajah tampan yang mengenakan jubah putih serta sorban yang juga berwarna putih di kepalanya. Dia menghampiri diriku.

“siapa gerangan tuan?” tanyaku kebingungan. “aku adalah amalmu yang akan menemanimu dalam kuburmu.” jawabnya, lalu ia tersenyum padaku.

Aku masih bingung.

Lalu di halaman rumahnya, terdapat sebuah pagar kain yang berbentuk segi empat 3X3 m, sepertinya itu adalah tempat bekas untuk memandikan jasadku. Tanahnya masih basah. Didalamnya masih terdapat sebuah altar yang beralaskan gedebong pisang. Aroma sabun masih menyengat di dalamnya. Di situlah jasadku dimandikan, di wudhukan sampai bersih dari segala najis dan kotoran.

Semakin banyak orang yang berdatangan mengucapkan belasungkawa. Ada yang hanya melihat saja, ada yang ikut sibuk mempersiapkan kain kafan dan lain-lain. Semua perabot di ruang tamu dikeluarkan. Lalu tak berselang lama, enam orang pria dengan tubuh kekar datang sambil memanggul sebuah keranda mayat. Orang-orang yang menghalangi jalan segera minggir. Lalu keranda itu diletakkan dipinggir jasadku. Setelah semua selesai membaca surat Yaasin untukku, jasadku dikafani dan diletakkan pada keranda itu, kemudian orang-orang yang ku kenal yang adalah tetanggaku mengangkat keranda itu dan membawanya ke masjid terdekat dengan rumahku untuk dishalati. Di belakang para pengangkat keranda itu ada sepupuku, hafid, dia memegang payung hitam yang gagangnya disambung dengan tongkat yang biasa digunakan untuk kegiatan Pramuka. Setelah dishalati, seorang kiai yang masih ada hubungan darah dengan bapakku mulai berdoa dan berpidato meminta keikhlasan dari orang-orang yang ku kenal. “…. barang kali almarhum punya sangkutan mohon diikhlaskan. Bagi yang sangkutannya cukup besar dan tidak ikhlas jika merelakannya silahkan ungkapkan saja sekarang, agar almarhum merasa ringan di alam sana.”

Setelahnya, keranda yang berisi jasadku itu diantar menuju pekuburan terdekat. Di sana sudah disiapkan liang kubur untuk jasadku dengan ukuransekitar 2X1,5 meter dan kedalaman sekitar 2 meter. Iring-iringan orang yang mengantar kepergianku begitu banyak. Sampai ada yang tidak aku kenal sama sekali. Dan diantara orang-orang itu ada teman-temanku yang ikut mengantar jasadku. Dan hampir semua teman-teman perempuanku menangis, diantaranya adalah gadis yang sangat aku cintai. Yah, dialah pujaan hatiku, Fatimah az-Zahra. Namanya mirip dengan putri Rasulullah, dan dia begitu cantik. Dialah satu-satunya gadis yang ada di dalam hatiku. Meski aku tidak pernah mengungkapkan cintaku padanya secara terang-terangan, tapi dia tahu aku sangat mencintainya. Dan akupun tahu dia juga mencintaiku. Dan sungguh sangat ironis melihat cinta kami terpisahkan oleh maut.

Sampai disana, jasadku dikeluarkan dari keranda, dan di dalam liang kubur itu sudah bersiap-siap orang-orang yang akan menerima jasadku untuk mereka letakkan di tempat peristirahatan terakhirku. Dan setelah doa dan azan dikumandangkan, secara perlahan tanah kuburan itu diletakkan pada jasadku, sampai akirnya tenggelamlah jasadku di tanah itu. Jasadku terkubur disitu. Kemudian pak kiai membacakan doa lagi untukku. Dan orang-orang mulai beranjak pergi meninggalkan kuburku. Satu per satu mereka pergi. Mulai dari orang-orang yang tidak aku kenal, para tetangga, teman-temanku– juga Fatimah az-Zahra–, keluarga dekatku, dan disitu hanya tersisa ibu dan bapakku. Ibuku masih terisak-isak, sedangkan bapakku mencoba tegar dan menenangkan ibuku. Ingin rasanya aku memanggil mereka berdua, tapi itu sia-sia.

Akirnya sepi, tempat itu menjadi sepi. Hanya gundukan tanah yang masih basah yang dimana jasadku bersemayam didalamnya. Kini aku sudah mati. Mungkin untuk beberapa hari aku masih diingat dan masih banyak orang yang berkunjung ke rumahku, tapi itu tidak akan lama. Pasti aku akan dilupakan. Aku tahu itu. Waktulah yang akan menjawabnya.

Selamat jalan untuk diriku yang telah wafat. Selamat tinggal untuk kedua orang tuaku, keluarga besarku, teman-temanku, guru-guruku, tetanggaku, dan selamat tinggal Fatimah az-Zahra gadis impianku. Semoga kau temukan pendamping hidup yang setia seperti Ali bin Abi Thalib. Aku mencintaimu, aku mencintai kalian semua. Innalillahi wa inna illahi rojiun………….

Allah SWT telah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

“Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (Al-Munafiqun: 11)

Wahai betapa meruginya seseorang yang berjalan menuju alam keabadian tanpa membawa bekal. Janganlah engkau, wahai jiwa, termasuk yang tak beruntung tersebut. Perhatikanlah peringatan Rabbmu:

وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Dan hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan ayat di atas dengan menyatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1388)

Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal kala kematian telah datang karena tiada berbekal, lalu engkau berharap penangguhan.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)

Karenanya, berbekallah! Persiapkan amal shalih dan jauhi kedurhakaan kepada-Nya! Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Semoga Bermanfaat…

Advertisements

KELUARGA YANG TERLAMPAU !!! SILA BACA !!!

Posted in TAZKIRAH on September 28, 2010 by jabatan amal titiwangsa

Sauatu hari, seorang ustazah travel, Dia singgah di rumah seorang sahabatnya yang mana pasangan suami isteri tersebut adalah guru biasa. Si suami seorang guru penolong kanan. Beliau tiba di rumah sahabatnya ini sekitar tengahari tapi belum zohor. Kedua-dua suami isteri ini masih disekolah. Walau bagaimanapun beberapa orang dari 8 orang anak mereka yang  ke semuanya lelaki yang mana yang paling tua dalam tingkatan satu & yang paling muda masih bayi  sudah pun pulang dari sekolah. Waktu zohor masuk, abang yang tua mengajak semua adik-adiknya yang baru pulang untuk solat berjemaah dengan dia sendiri sebagai imam.Sewaktu dalam rakaat kedua, salah seorang adiknya yang berumur lingkungan 8 tahun pulang. Tanpa bertangguh tatkala melihat jemaah yangsedng solat, dia mengambil wudhu’ dan solat bersama jemaah, ia ikut ruku’ apabila imam ruku’. Dia ikut sujud apabila imam sujud. Dan selesai imam memberi salam,dia bangun menyelesaikan satu rakaat solatnya yangtertinggal. Subhanallah. .. adik yang berumur 8 tahun ini sudah pandai masbuk… ustazah yang melihat terkejut dan kami yang mendengar mengucap memuji ALLAH. Bayangkan betapa taatnya anak-anak yang masih kecil ini menunaikan perintah ALLAH tanpa pengawasan kedua orang tua mereka atau mana-mana orang dewasa dan tanpa disuruh-suruh. Cerita tak berakhir disitu.

Ustazah bermalam di rumah sahabatnya itu. Apabila subuh, ustazah menyangka dialah yang paling awal bangun kerana dia bangun selesai sahaja azan subuh berkumandang kalau saya tak lupa. Takjubnya dia apabila ke bilik air dilihatnya anak-anak kecil sedang sibuk ambil wudhu’. Bayangkan 7 orang budak lelaki dengan yang paling tua berumur 13tahun dan yang ke tujuh ntah berapa tahun sibuk mengambil wudhu’ dibilik air di waktu subuh paling awal. Si ayah menunggu anak-anaknya ditikar sembahyang dengan sabar sambil berzikir.Mereka solat jemaah sekeluarga (termasuk ustazah). Sewaktu hendak mulasolat, si ibu meletakkan anak bongsunya yang masih bayi (yang sedang jaga) di sisinya. Ajaibnya anak ini tidak menangis mengganggu Jemaah sepanjang mereka solat. Dan sekali lagi cerita tak berakhir di situ . Ustazah tersebut ingatkan hendak sambung tidur kerana penat travel semalamnya tak surut lagi.  Alangkah terkejutnya dia apabila hendak melipat sejadah, si ayah berpusing menghadap jemaah sambil berkata,“Anak-anak.. . hari ni ayah nak beri kuliah mengenai solat dan puasa… “.Dan 8 orang anak termasuk si ibu dengan tekun mendengar kuliah subuhyang disampaikan

Subhanallah. … bila ditanya kepada si ibu mengapa didikan sedemikian diberi kepada anak-anaknya? Dia menjawab bahawa itu persediaan dia dan suaminya sebelum mati. Mereka berharap agar anak-anak lelakinya yang 8 orang itu dapat membacakan sekurang-kurangnya fatihah untuk mereka jika ditakdirkan mereka pergi dulu.. Lagipun anak-anak mereka semuanya lelaki… Pasangan suami isteri ini tak sanggup melihat anak-anak mereka terabai tanpa pedoman… cuba kita tanya diri kita sendiri…

* Berapa ramai keluarga Islam hari ini yang dapat mengamalkan solat jemaah dalam keluarga ???

* berapa ramai anak-anak Islam berumur 8 tahun yang pandai solat masbuk??

* Berapa ramai anak-anak berumur 13 tahun yang pandai mengimami solat memimpin adik-adik mereka ???

* Berapa ramai ibubapa yang berjaya mendidik anak-anak mereka sedemikian rupa yang taat melaksanakan  perintah ALLAH tanpa suruhan dan pengawasan mereka yang lebih dewasa ???

* TAJUK DI ATAS SEKADAR INGIN MENGATAKAN..INILAH KELUARGA YANG TERLAMPAU BAIK !! MOGA SAHABAT2 AMAL DAPAT MENCONTOHI AMALAN KELUARGA INI..ALLAHUAKHBAR !!

RUMAH TERBUKA PAS TITIWANGSA

Posted in AKTIVITI on September 26, 2010 by jabatan amal titiwangsa

Adengan curi tulang yg mendebarkan oleh sahabat2 AMAL.

Aksi berani mati dari Saudara Azam dan En. Taqi ( pakai topi ).

Adik2 AMAL berbasaha basahan kerana hujan yang turun , tapi semangat tetap power rangers !

Keramat Kuala Lumpur Ahad  26 September 2010 : Majlis rumah terbuka PAS Kawasan Titiwangsa berlangsung di Dataran Agro, berhadapan PASTI al Hidayah, juga bersebelahan Jalan Tun Razak Kulala Lumpur. Seperti biasa , AMAL di amanahkan untuk menjaga lalulintas dan parking. AMAL juga mengambil sikap prihatin dengan sama2 membersihkan kawasan majlis. Majlis yang di hadiri oleh Ahli Parlimen Titiwangsa Dr Lu’ Lu’ Dato AHmad Ghazali , pimpinan PAS Kawasan , Negeri , Pusat dan beberapa tetamu dari Ahli Parlimen dari Pakatan Rakyat bermula jam 2 petang hingga 5 petang. Walaupun hujan , AMAL tetap tidak berganjak dari tugasan yang diberikan. Sekian.

LAGI LAGI PENANGGAH..

Posted in AKTIVITI on September 26, 2010 by jabatan amal titiwangsa

Cheras Kuala Lumpur Sabtu  25 September 2010  : Tugasan penanggah berjaya di laksanakan . Lokasi kali ini di Taman Maluri Cheras . Majlis walimah anak kepada Pesuruhjaya PAS Wilayah Persekutuan Tuan Haji Mohd Noor. Tugasan lalulintas dan parking itu bermula jam 11.30 am hingga 3 pm.

CUBAAN TIPU MALAIKAT..HE..HE..HE..

Posted in SISIPAN on September 22, 2010 by jabatan amal titiwangsa

Al-kisah ada seorang businessman yang kaya raya bernama Hj.Teepo. Apa saja nama bisnes atas muka bumi ini, dia ada. Sayang, kekayaan Hj.Teepo adalah sebahagian besar hasil penipuan dan putar alamnya dalam bisnes. Sahamnya berpuluh juta, hasil penipuan. Tanah ribu hektar,pun hasil tipu. Wang beratus juta juga, tipu punya hasil. Puas isterinya memberikan kaunseling agar Hj.Teepo berhenti menipu, namun tak dihiraukannya.
Kerana makan terlalu banyak dan mewah, dinner tiap-tiap malam (orang belanja of course), exercise tarak, satu hari Hj.Teepo disahkan oleh doktor mengidapi penyakit barah dan disahkan akan padam dalam masa sebulan. Maka teramatlah hiba hati Hj.Teepo nak meninggalkan dunia ini, tambah pula mengenangkan segala aktivitinya selama ini.
Maka dipanggillah anak isterinya untuk berwasiat. Kain yang dah buruk, koyak pun tak apa, buat kain kapan aku. Aku dah banyak merasa kemewahan di dunia ini. Biarlah kain buruk yang ku bawa ke akhirat,” jelas Hj.Teepo dengan genangan air mata. “Kenapa begitu bang?” tanya isterinya.”Saja aku nak merasa pakai kain buruk pula,” jawabnya lagi. Isterinya terdiam,tapi hatinya berbisik, “Syukurlah, walau dah agak terlambat, ada juga kesedaran dan keinsafan dihati suamiku.”
Maka tempoh sebulan cuma tinggal 24 jam lagi. Dengan wajah sugul, Hj.Teepo berbaring di kamarnya. Kain putih yang dah lusuh dan terkoyak sana sini telah siap disediakan. Untuk terakhir kali, si isteri menghampiri Hj.Teepo. “Bang”, bisiknya perlahan. “Buat kali terakhir sebelum abang meninggalkan kami, berilah tahu kenapa abang nak dikapankan dengan kain yang dah buruk. Sedih saya melihat keadaan kain itu bang. Apakah abang telah insaf dan bertaubat dengan perbuatan abang selama ini?”
Hj.Teepo merenung isterinya lama-lama dan bersuara, “Baiklah, mari rapat kepadaku” isteri Hj.Teepo terus menghampiri suaminya. Dengan nada yang sedih Hj.Teepo bersuara, “Yang, you pun tahu, terlalu banyak dosa yang I lakukan selama ini. Berapa ramai orang yang dah I kelentong. Jadi cukuplah kemewahan yang I rasakan. Biarlah I dikebumikan dengan kain buruk saja.” Isterinya masih ragu-ragu.
“Apakah abang fikir dosa-dosa abang boleh diampunkan dengan berkain kapan yang buruk begitu?” tanyanya lagi.
“Bukan begitu Yang. Kalaulah abang pakai kain kapan yang buruk, nanti Malaikat Mungkar dan Nakir fikir abang dah lama mati. Mereka juga akan fikir abang dah kena soal. Taklah nanti mereka soal abang lagi. Jadi selamatlah abang….”
“Astaghfirullah hal aziiiiiiiiiim” isteri Hj.Teepo terus terlentang kerana
terkejut berok dengan penjelasan suaminya.
P/S: Mati pun nak kelentong. Nak kelentong Malaikat pulak tu….. Ambik le
iktibar

5 SYARAT JIKA HENDAK BUAT MAKSIAT.

Posted in TAZKIRAH on September 21, 2010 by jabatan amal titiwangsa

Suatu hari ada seorang lelaki yang menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata:

“Wahai Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat.”

Setelah mendengar perkataan tersebut Ibrahim berkata:

“Jika kamu mahu menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh kamu melakukan maksiat.”

Lelaki itu dengan tidak sabar-sabar bertanya.

“Apakah syarat-syarat itu, wahai Aba Ishak?”

Ibrahim bin Adham berkata:

01.”Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezeki-Nya.”

Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata:

“Dari mana aku mahu makan? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah?

“Ya!” tegas Ibrahim bin Adham.

“Kalau kamu sudah memahaminya, masih mampukah memakan rezekinya, sedangkan kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?”

02.”Yang kedua,” kata Ibrahim, “kalau mahu bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya!

Syarat ini membuat lelaki itu terkejut setengah mati.

Ibrahim kembali berkata kepadanya:

“Wahai Abdullah, fikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu melanggar segala larangan-Nya?”

“Ya! Anda benar.” kata lelaki itu. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab:

03.”Kalau kamu masih mahu bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!”

Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata:

“Wahai Ibrahim, ini nasihat macam mana? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”

“Ya, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan melakukan maksiat?” kata Ibrahim.

Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.

Ibrahim melanjutkan:

04.”Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakanlah kepadanya, Ketepikan kematianku dulu. Aku masih mahu bertaubat dan melakukan amal soleh”

Kemudian lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersedar dan berkata:

“Wahai Ibrahim , mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permintaanku?”

“Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahawa kamu tidak boleh menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau boleh lari dari kemurkaan Allah?”

“Baiklah, apa syarat yang kelima?”

Ibrahim pun menjawab:

05.”Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak mengiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau ikut bersamanya.”

Perkataan tersebut membuat lelaki itu insaf. Dia berkata:

“Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya.” Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. “Mulai saat ini aku ingin bertaubat kepada Allah.” katanya sambil teresak-esak.

PESANLAH PADA ISTERI DAN BAKAL ISTERI..

Posted in TAZKIRAH on September 19, 2010 by jabatan amal titiwangsa

khususnya untuk para wanita dan diri sendiri…..

Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah . Lalu keduanya bertanya mengapa Rasul menangis.

Beliau menjawab, “Pada malam aku di-isra’- kan , aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.

Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya.“Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantang kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta. Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,”kata Nabi.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?

*Rsulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang ‘mengotori’ tempat tidurnya.

*Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

*Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

*Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa shalat tapi tidak mengamalk! annya dan tidak mau mandi junub.

* Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta.. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami.

“Mendengar itu,Sayidina Ali dan Fat imah Az-Zahra pun turut menangis.

Dan inilah peringatan kepada kaum perempuan.

sampai2kan kpd kwn2 kita yg lain..insyaALLAH